.
Pengertian Inklusivisme pada Kehidupan Antar Umat
Beragama
A. Latar
Belakang
Indonesia
adalah negara yang memiliki keberagaman agama. Keberagaman ini perlu adanya
rasa keterbukaan antar umat beragama agar bisa hidup berdampingan serta hidup
rukun. Di Indonesia terdapat pendidikan untuk semua agama. Meski demikian,
masih saja adanya ketidak rukunan antar umat beragama. Hal yang
melatarbelakangi hal ini adalah sifat “fanatik”, jika agamanya adalah yang
paling benar dan terbaik. Fenomena ini juga dilatarbelakangi atas aktivitas
politik, dan dimana para pemerannya adalah orang yang tidak bertanggung jawab
atas keserakahannya.
Fenomena
yang paling sering terlihat atas runtuhnya inklusifisme di Indonesia ialah
karena aktivitas politik di Indonesia yang mengatasnamakan agama. Kegiatan
politik yang tidak sehat ini menyebabkan perselisihan antar umatberagama. Hanya
demi merebutkan kekuasaan, kegiatan politik.
Keterbukaan
yang runtuh di indonesia juga dipengaruhi oleh adanya faktor ekonomi. Faktor
ekonomi ini juga ada keterkaitan dengan aktivitas politik di Indonesia. Mereka
dibayar oleh pelaku politik untuk mengatasnamakan agama kegiatan berdemokrasi.
Hal ini terpaksa dilakukan karena faktor demi memenuhi kebutuhan kehidupan.
I.
Pengertian Sikap Inklusivisme dalam kehidupan
beragama
Dalam hidup
berdampingan atas perbedaan agama, tentu ada salah satu sikap yang harus
dimiliki oleh tiap umat. Sifat inklusivisme bisa juga disebut sikap keterbukaan
antar umat beragama. Sifat ini diperlukan karena tanpa rasa keterbukaan, kita
tidak bisa berinteraksi dengan saudara kita yang memiliki perbedaan agama,
serta akan menimbulkan sikap fanatik jika agamanya ialah agama terbaik. Pada
dasarnya semua agama mengajarkan
kebaikan. Namun hal yang menyebabkan suatu agama tersebut terlihat buruk ialah
tingkah laku tiap umat yang merasa agamanya yang terbaik, sehingga tercipta
sikap tertutup dengan umat yang beragama berbeda.
Hal ini bisa
menyebabkan permusuhan yang tidak berguna. Permusuhan antar umat beragama ini
bisa menyebabkan perpecahan yang parah hingga bisa meruntuhkan kesalehan antar
umat beragama. Sifat egois adalah hal utama yang menyebabkan perasaan fanatik
muncul. Salah satu faktor luar yang mulai terlihat lebih buruk lagi dalam
memengaruhi sifat inklusivisme dalam kehidupan beragama ialah kepentingan
berpolitik. Demi meraih kekuasaan, banyak parah tokoh politik mengatasnamakan
agama untuk kepentingan individu maupun kelompoknya.
Selain dunia
politik, dunia pendidikan juga bisa menyebabkan runtuhnya sifat inklusivisme.
Seperti yang bisa diamati, jika sebenarnya pendidikan Budi Pekerti lebih tepat
jika dibandingkan dengan pendidikan Agama. Hal ini juga pernah dikatakan
oleh
II.
Pandangan
Tiap Agama Mengenai Fenomena Politik, Pendidikan, Sosial, Budaya, dan Ekonomi
2.1
Pandangan
tiap agama mengenai fenomena politik
Islam: Agama Islam memiliki pandangan jika
pemerintah dan penguasa harus adil dalam memimpin.
Dan
apabila kamu berhukum (menjatuhkan putusan) di antara manusia, maka hendaklah kamu
memutuskan dengan adil(QS Al-Nisa' [4]: 58).
Kristen : Agama Kristen memiliki pandangan jika pemerintahan memiliki
peran penting dalam menentukan aturan yang mengatur keadilan di masyarakat.
13:1Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di
atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasaldari Allah; dan
pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. 13:2 Sebab itu
barang siapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan
siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. Pemerintah adalah
hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. 13:6 Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak.
Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. 13:7 Bayarlah
kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima
pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada
orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima
hormat. (Roma 13:1-7)
Katolik :Agama Katolik memiliki pandangan yang sama dengan agama
Kristen.
13:1Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di
atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasaldari Allah; dan
pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. 13:2
Sebab itu barang siapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah
dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. Pemerintah
adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat
jahat. 13:6
Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka
yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. 13:7
Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang
berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima
cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat
kepada orang yang berhak menerima hormat. (Roma 13:1-7)
Buddha : Agama Buddha memiliki pandangan
jika politik merupakan bagian sebagai penyetara dan penengah dalam suatu
pemerintahan.
01.
Bersikapbebas / tidakpicik dan menghindarisikapmementingkandirisendiri.
02. Memelihara suatu sifat moral
tinggi.
03. Siap mengorbankan kesenangan sendiri
bagi kesejahteraan rakyat.
04. Bersikap jujur dan menjaga ketulusan
hati.
05. Bersikap.baik hati dan lembut.
06. Hidup sederhana sebagai teladan rakyat.
07. Bebas dari segala bentuk kebencian.
08. Melatih tanpa kekerasan.
09. Mempraktikkan kesabaran, dan
10. Menghargai pendapat masyarakat untuk
meningkatkan kedamaian dan harmoni.
Hindu : Pada agama Hindu menitikberatkan
pada kewajiban pemerintah dan rakyatnya dalam menegakkan kejayaan bangsa dan
negara, atau disebut “Dharma Negara”.
UTTARAM RASTRAM PRAJAYA UTTARA VAT (ATHARVAVEDA XII.3.10)
Para politisi yang bersaing menguasai pemerintahan disyaratkan dalam Veda agar selalu memperhatikan kepentingan rakyat karena landasan seorang pemimpin adalah rakyatnya:
VISI RAJA PRATISTHITAH (YAYURVEDA XX.9)
karena itu pemimpin hendaklah berupaya meningkatkan kualitas rakyat:
PRA JAM DRMHA (YAYURVEDA V.27)
memelihara kesejahteraan rakyat:
SIVAM PRAJABHYAH (YAYURVEDA XI.28)
membahagiakan rakyat:
PANCA KSITINAM DYUMNAM A BHARA (SAMAVEDA 971)
memperhatikan keluhan rakyat:
karena itu pemimpin hendaklah berupaya meningkatkan kualitas rakyat:
PRA JAM DRMHA (YAYURVEDA V.27)
memelihara kesejahteraan rakyat:
SIVAM PRAJABHYAH (YAYURVEDA XI.28)
membahagiakan rakyat:
PANCA KSITINAM DYUMNAM A BHARA (SAMAVEDA 971)
memperhatikan keluhan rakyat:
2.2
Pandangan
tiap agama mengenai fenomena pendidikan
Islam:
Pada agama Islam, setiap pengetahuan harus diterima serta harus tetap
berpegang pada agama.
1.
Surat
Az-Zumarayat 18
“Maka gembirakanlah hamba-hamba-Ku yang menginventarisasi pendapat-pendapat, lalu mengikuti yang terbaik. Mereka itulah yang memperoleh petunjuk Allah dan mereka itulah kaum intelektual”.
“Maka gembirakanlah hamba-hamba-Ku yang menginventarisasi pendapat-pendapat, lalu mengikuti yang terbaik. Mereka itulah yang memperoleh petunjuk Allah dan mereka itulah kaum intelektual”.
2.
Surat
Yunusayat 101
“Katakan: nalarilahapa yang ada di langit dan di bumi. Dan tidaklah berguna segala ayat dan peringatan itu bagi kaum yang tidak percaya”.
“Katakan: nalarilahapa yang ada di langit dan di bumi. Dan tidaklah berguna segala ayat dan peringatan itu bagi kaum yang tidak percaya”.
Kristen : Pada
agama Kristen, mengajarkan untuk taat pada firman Allah.
1.
Di surat Roma,
Rasul Paulus menggunakan kata
"tahu"atau"mengetahui"sebanyak sebelas kali. Ketika kita memperoleh
pengetahuan spiritual, maka kita dapat menerapkan pengetahuan itu dalam kehidupan
kita. Termasuk untuk menyerahkan diri kita kepada-Nya dan menggunakan pengetahuan
tentang kebenaran ini untuk melayani Allah dalam roh dan kebenaran (Rm
6:11-13).
2.
Salomo menyatakan kalau
dasar dari semua pengetahuan yang benar adalah “takut akan Allah” (Ams 1:7).
Katolik
: Pada agama Katolik, mengajarkan jika pendidikan adalah tugas utama dari orang
tua kepada anaknya: “Barang siapa mendidik anaknya dengan tertib akan beruntung
karenanya, dan di kalangan para kenalan boleh membanggakannya”.
1.
Salomo menyatakan kalau
dasar dari semua pengetahuan yang benar adalah “takut akan Allah” (Ams 1:7).
2.
ala tulisan yang
diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan,
untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”
Hindu
: Pada agama Hindu, mengajarkan aspek-aspek yang sampai sekarang masih ada,
yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.
1.
Sraddha adalah keyakinan yang benar
tentang kebenaran (Maswinara, 1994: hal 29).
2.
Tiga tujuan dari asrama ini adalah untuk memperoleh ilmu
pengetahuan, membangun karakter, dan belajar untuk memanggul tanggungjawab yang
akan ia dapatkan pada saat kehidupannya menjadi orang dewasa(Pandit, 2005 :
295).
Buddha :
Pada agama Buddha, mengajarkan jika pendidikan sangatlah penting sebagai sarana
perkembangan anak dalam menuju pikiran yang lebih dewasa, dan bertanggung
jawab.
1.
“Di
sini Yasa, tiada yang mencemaskan. Di sini Yasa, tiada yang menyakitkan. Kesini Yasa, Aku akan mengajarmu,”(vinaya
I.15).
2.
“Aku
telah berhenti. Engkapun berhentilah.”(MajjhimaNikaya II.90).
2.3
Pandangan
tiap agama mengenai fenomena Sosial
Islam: Agama Islam mengajarkan pada kehidupan
sosial, seluruh umat harus saling tolong-menolong dengan sesama dan menjauhi
segala permusuhan serta dosa-dosa.
Dan
tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong
dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya
Allah sangat beratsiksaan-Nya. – (Q.S Al-Maidah: 2)
III.
Contoh-Contoh dari Fenomena Sosial Kehidupan Beragama
Sebagai mahluk
sosial, tentu kita tidak dapat hidup
sendiri. Pastilah kita perlu bantuan dari orang lain. Dalam kehidupan sebagai
mahluk sosial, kita memerlukan salah satu yang paling terpenting, yaitu sikap
keterbukaan. Dengan sikap keterbukaan, kita dapat hidup berdampingan. Misalkan,
para pemeluk agama Islam mengharamkan makanan yang dalam kitab suci agamanya,
dan semua umat dari agama yang berbeda harus menghormati hal ini dengan tidak
menjual, memberikan makanan yang diharamkan bagi umat beragama Islam. Dengan
rasa saling menghormati satu dengan yang lainnya, rasa aman dan nyaman sudah
bisa dirasakan. Dan salah satu lagi ialah, misalkan agama Buddha sedang
merayakan hari raya Kathina di vihara, maka umat lain harus bisa menjaga
ketenangan selama para umat agama Buddha bisa menjalankan ibadahnya dengan
penuh hikmat.
I.
A.
Penutup
Indonesia
merupakan agama dengan keberagaman yang sangat banyak. Salah satunya adalah
agama. Inti dari semua agama sama, yaitu mengajarkan kita untuk berbuat
kebaikan tanpa melihat siapa yang kita tolong. Untuk menjaga kesatuan antar
umat beragama, maka kita perlu menjauhkan sifat fanatisme kita, serta
diperlukannya rasa keterbukaan antar umat. Dengan saling menghormati, tidak
merasa kepercayaannya lah yang paling benar, hal tersebut sudah bisa memberikan
kerukunan antar umat beragama. Sifat inklusivisme ini penting dalam kehidupan
antar umat beragama, karena sudah mencakup semua yang sudah disebutkan tadi.
Referensi:
http://dahanband2.blogspot.com/p/blog-page_3.html
No comments:
Post a Comment