Tuesday, February 26, 2019


.     

Pengertian Inklusivisme pada Kehidupan Antar Umat Beragama



   A.  Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang memiliki keberagaman agama. Keberagaman ini perlu adanya rasa keterbukaan antar umat beragama agar bisa hidup berdampingan serta hidup rukun. Di Indonesia terdapat pendidikan untuk semua agama. Meski demikian, masih saja adanya ketidak rukunan antar umat beragama. Hal yang melatarbelakangi hal ini adalah sifat “fanatik”, jika agamanya adalah yang paling benar dan terbaik. Fenomena ini juga dilatarbelakangi atas aktivitas politik, dan dimana para pemerannya adalah orang yang tidak bertanggung jawab atas keserakahannya.
Fenomena yang paling sering terlihat atas runtuhnya inklusifisme di Indonesia ialah karena aktivitas politik di Indonesia yang mengatasnamakan agama. Kegiatan politik yang tidak sehat ini menyebabkan perselisihan antar umatberagama. Hanya demi merebutkan kekuasaan, kegiatan politik.
Keterbukaan yang runtuh di indonesia juga dipengaruhi oleh adanya faktor ekonomi. Faktor ekonomi ini juga ada keterkaitan dengan aktivitas politik di Indonesia. Mereka dibayar oleh pelaku politik untuk mengatasnamakan agama kegiatan berdemokrasi. Hal ini terpaksa dilakukan karena faktor demi memenuhi kebutuhan kehidupan.



       I.             Pengertian Sikap Inklusivisme dalam kehidupan beragama
Dalam hidup berdampingan atas perbedaan agama, tentu ada salah satu sikap yang harus dimiliki oleh tiap umat. Sifat inklusivisme bisa juga disebut sikap keterbukaan antar umat beragama. Sifat ini diperlukan karena tanpa rasa keterbukaan, kita tidak bisa berinteraksi dengan saudara kita yang memiliki perbedaan agama, serta akan menimbulkan sikap fanatik jika agamanya ialah agama terbaik. Pada dasarnya semua agama  mengajarkan kebaikan. Namun hal yang menyebabkan suatu agama tersebut terlihat buruk ialah tingkah laku tiap umat yang merasa agamanya yang terbaik, sehingga tercipta sikap tertutup dengan umat yang beragama berbeda.
Hal ini bisa menyebabkan permusuhan yang tidak berguna. Permusuhan antar umat beragama ini bisa menyebabkan perpecahan yang parah hingga bisa meruntuhkan kesalehan antar umat beragama. Sifat egois adalah hal utama yang menyebabkan perasaan fanatik muncul. Salah satu faktor luar yang mulai terlihat lebih buruk lagi dalam memengaruhi sifat inklusivisme dalam kehidupan beragama ialah kepentingan berpolitik. Demi meraih kekuasaan, banyak parah tokoh politik mengatasnamakan agama untuk kepentingan individu maupun kelompoknya.
Selain dunia politik, dunia pendidikan juga bisa menyebabkan runtuhnya sifat inklusivisme. Seperti yang bisa diamati, jika sebenarnya pendidikan Budi Pekerti lebih tepat jika dibandingkan dengan pendidikan Agama. Hal ini juga pernah dikatakan oleh 
    II.            Pandangan Tiap Agama Mengenai Fenomena Politik, Pendidikan, Sosial, Budaya, dan Ekonomi

2.1  Pandangan tiap agama mengenai fenomena politik

Islam: Agama Islam memiliki pandangan jika pemerintah dan penguasa harus adil dalam memimpin.
Dan apabila kamu berhukum (menjatuhkan putusan) di antara manusia, maka hendaklah kamu memutuskan dengan adil(QS Al-Nisa' [4]: 58).

Kristen : Agama Kristen memiliki pandangan jika pemerintahan memiliki peran penting dalam menentukan aturan yang mengatur keadilan di masyarakat.
13:1Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasaldari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan  oleh Allah. 13:2 Sebab itu barang siapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. 13:6 Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak.  Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. 13:7 Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat. (Roma 13:1-7)           

Katolik :Agama Katolik memiliki pandangan yang sama dengan agama Kristen.
13:1Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasaldari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan  oleh Allah. 13:2 Sebab itu barang siapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. 13:6 Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak.  Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. 13:7 Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat. (Roma 13:1-7)           



Buddha : Agama Buddha memiliki pandangan jika politik merupakan bagian sebagai penyetara dan penengah dalam suatu pemerintahan.
01. Bersikapbebas / tidakpicik dan menghindarisikapmementingkandirisendiri.
02. Memelihara suatu sifat moral tinggi.
03. Siap mengorbankan kesenangan sendiri bagi kesejahteraan rakyat.
04. Bersikap jujur dan menjaga ketulusan hati.
05. Bersikap.baik hati dan lembut.
06. Hidup sederhana sebagai teladan rakyat.
07. Bebas dari segala bentuk kebencian.
08. Melatih tanpa kekerasan.
09. Mempraktikkan kesabaran, dan
10. Menghargai pendapat masyarakat untuk meningkatkan kedamaian dan harmoni.

Hindu : Pada agama Hindu menitikberatkan pada kewajiban pemerintah dan rakyatnya dalam menegakkan kejayaan bangsa dan negara, atau disebut “Dharma Negara”.
           
UTTARAM RASTRAM PRAJAYA UTTARA VAT (ATHARVAVEDA XII.3.10)
Para politisi yang bersaing menguasai pemerintahan disyaratkan dalam Veda agar selalu memperhatikan kepentingan rakyat karena landasan seorang pemimpin adalah rakyatnya:
VISI RAJA PRATISTHITAH (YAYURVEDA XX.9)
karena itu pemimpin hendaklah berupaya meningkatkan kualitas rakyat:
PRA JAM DRMHA (YAYURVEDA V.27)
memelihara kesejahteraan rakyat:
SIVAM PRAJABHYAH (YAYURVEDA XI.28)
membahagiakan rakyat:
PANCA KSITINAM DYUMNAM A BHARA (SAMAVEDA 971)
memperhatikan keluhan rakyat:
2.2  Pandangan tiap agama mengenai fenomena pendidikan
Islam:  Pada agama Islam, setiap pengetahuan harus diterima serta harus tetap berpegang pada agama.
1.        Surat Az-Zumarayat 18
Maka gembirakanlah hamba-hamba-Ku yang menginventarisasi pendapat-pendapat, lalu mengikuti yang terbaik. Mereka itulah yang memperoleh petunjuk Allah dan mereka itulah kaum intelektual”.
2.        Surat Yunusayat 101
Katakan: nalarilahapa yang ada di langit dan di bumi. Dan tidaklah berguna segala ayat dan peringatan itu bagi kaum yang tidak percaya”.


Kristen : Pada agama Kristen, mengajarkan untuk taat pada firman Allah.
1.      Di surat Roma, Rasul Paulus menggunakan kata "tahu"atau"mengetahui"sebanyak sebelas kali. Ketika kita memperoleh pengetahuan spiritual, maka kita dapat menerapkan pengetahuan itu dalam kehidupan kita. Termasuk untuk menyerahkan diri kita kepada-Nya dan menggunakan pengetahuan tentang kebenaran ini untuk melayani Allah dalam roh dan kebenaran (Rm 6:11-13).
2.      Salomo menyatakan kalau dasar dari semua pengetahuan yang benar adalah “takut akan Allah” (Ams 1:7).

Katolik : Pada agama Katolik, mengajarkan jika pendidikan adalah tugas utama dari orang tua kepada anaknya: “Barang siapa mendidik anaknya dengan tertib akan beruntung karenanya, dan di kalangan para kenalan boleh membanggakannya”.
1.      Salomo menyatakan kalau dasar dari semua pengetahuan yang benar adalah “takut akan Allah” (Ams 1:7).
2.      ala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”


Hindu : Pada agama Hindu, mengajarkan aspek-aspek yang sampai sekarang masih ada, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.
1.      Sraddha adalah keyakinan yang benar tentang kebenaran (Maswinara, 1994: hal 29).
2.      Tiga tujuan dari asrama ini adalah untuk memperoleh ilmu pengetahuan, membangun karakter, dan belajar untuk memanggul tanggungjawab yang akan ia dapatkan pada saat kehidupannya menjadi orang dewasa(Pandit, 2005 : 295).

Buddha : Pada agama Buddha, mengajarkan jika pendidikan sangatlah penting sebagai sarana perkembangan anak dalam menuju pikiran yang lebih dewasa, dan bertanggung jawab.
1.             “Di sini Yasa, tiada yang mencemaskan. Di sini Yasa, tiada yang menyakitkan.    Kesini Yasa, Aku akan mengajarmu,”(vinaya I.15).
2.      “Aku telah berhenti. Engkapun berhentilah.”(MajjhimaNikaya II.90).

2.3  Pandangan tiap agama mengenai fenomena Sosial

Islam:  Agama Islam mengajarkan pada kehidupan sosial, seluruh umat harus saling tolong-menolong dengan sesama dan menjauhi segala permusuhan serta dosa-dosa.
Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat beratsiksaan-Nya. – (Q.S Al-Maidah: 2)
     III.            Contoh-Contoh dari Fenomena Sosial Kehidupan Beragama
Sebagai mahluk sosial, tentu kita tidak dapat  hidup sendiri. Pastilah kita perlu bantuan dari orang lain. Dalam kehidupan sebagai mahluk sosial, kita memerlukan salah satu yang paling terpenting, yaitu sikap keterbukaan. Dengan sikap keterbukaan, kita dapat hidup berdampingan. Misalkan, para pemeluk agama Islam mengharamkan makanan yang dalam kitab suci agamanya, dan semua umat dari agama yang berbeda harus menghormati hal ini dengan tidak menjual, memberikan makanan yang diharamkan bagi umat beragama Islam. Dengan rasa saling menghormati satu dengan yang lainnya, rasa aman dan nyaman sudah bisa dirasakan. Dan salah satu lagi ialah, misalkan agama Buddha sedang merayakan hari raya Kathina di vihara, maka umat lain harus bisa menjaga ketenangan selama para umat agama Buddha bisa menjalankan ibadahnya dengan penuh hikmat.

                                                                                                        I.             
A.    Penutup

Indonesia merupakan agama dengan keberagaman yang sangat banyak. Salah satunya adalah agama. Inti dari semua agama sama, yaitu mengajarkan kita untuk berbuat kebaikan tanpa melihat siapa yang kita tolong. Untuk menjaga kesatuan antar umat beragama, maka kita perlu menjauhkan sifat fanatisme kita, serta diperlukannya rasa keterbukaan antar umat. Dengan saling menghormati, tidak merasa kepercayaannya lah yang paling benar, hal tersebut sudah bisa memberikan kerukunan antar umat beragama. Sifat inklusivisme ini penting dalam kehidupan antar umat beragama, karena sudah mencakup semua yang sudah disebutkan tadi.
Referensi:
http://dahanband2.blogspot.com/p/blog-page_3.html